MANADO

Kisruh Pesangon Karyawan PDAM=Potret Buram Buruh di Manado

Semoga mata hati mereka dibukakan Tuhan hingga menggerakkan nurani

MANADOLINKKisruh puluhan mantan karyawan PDAM Manado, menjadi gambaran buram kondisi buruh di Kota Manado.

Albert Wales, salah seorang mantan karyawan PDAM Manado mengatakan, peringatan hari buruh, mestinya menjadi momentum refleksi. Karena, kata Wales, berkaca pada penantian bertahun-tahun hak normatif karyawan, yakni dana pesangon dan pensiun tak kunjung diterima. Padahal, tukas pria yang mengaku mengabdi kurang lebih 32 tahun lamanya ini, negara menjamin akan hak normatif pensiunan karyawan dengan aturan hukum yang jelas. “Kami merasa diperlakukan seperti hewan perahan. Pengabdian, waktu, tenaga dan pemikiran yang kami berikan tidak dianggap,” ketus Wales.

Tak heran, Wales menyebut, potret buruh di Manado tidak dapat dijamin oleh pemerintah. “Kami mengabdi kepada perusahaan milik daerah, dan kami sebagai warga tidak diacuhkan oleh pemimpin daerah ini,” lanjut dia.

Wales pun hanya berharap, Walikota Andrei Angouw terbuka mata hatinya untuk para pensiunan karyawan. “Saya berdoa agar Tuhan dapat membuka nata hati pak walikota, hingga beliau dapat menggunakan nuraninya sebagai manusia,” harap Wales.

Sementara Iwan Moniaga, pelapor kasus dugaan korupsi Perumda PDAM Wanua Wenang menandaskan, apa yang menjadi hak mantan karyawan harus diperjuangkan. Bahkan, Moniaga menuturkan, apa yang dilaporkannya ke aparat penegak hukum (APH) khususnya Kejari Manado semestinya menjadi alarm untuk perbaikan di PDAM Manado. “Sejumlah dugaan kejanggalan penggunaan anggaran itu, merupakan bukti bobroknya oknum-oknum yang ditempatkan pak walikota,” sebut dia. “Coba kalau anggaran yang menjadi temuan BPK RI itu dikonversi untuk membayar pesangon mantan karyawan, pasti semuanya sudah terbayar,” serunya. ***

Related Articles

Back to top button